Review : Harry Potter and the Cursed Child

Januari 13, 2019


Harry Potter and the Cursed child
Harry Potter and the Cursed Child

Finally, my new blog post on January 2019..

Lumos!

Kali ini saya akan memberikan review buku yang berisikan skenario pementasan dari Harry Potter and Cursed Child, di West East London pada tahun 2016 lalu.

Review saya berisikan spoiler. Jadi, sebelum kamu membaca lebih lanjut, silahkan quit my blog window kalo masih pengen baca sendiri tanpa spoiler-an. Tapi, kalo ga ada masalah, silahkan lanjut… hehehehe πŸ˜„

Kenapa saya memberikan penjelasan buku ini berisikan skenario? 

Karena buku HP yang ke delapan ini berbeda dengan 7 seri HP lainnya. Pertama, alur cerita plot skenarionya beda, bukan seperti baca buku HP pendahulunya (pantas saja sebagian  potter head yang kecewa dengan buku ini). Kedua, konon katanya penulis buku ini tidak sepenuhnya JK Rowling. Rowling hanya memberikan karakter cerita miliknya, tetapi Jack Thorne yang “mengkaryakannya”. 

Saya pribadi, sebenarnya tidak ingin membaca buku ini sejak English versionnya terbit 2016 lalu. Bagi saya HP and Deathly Hallows sudah menjadi penutup yang manis dalam kisah perjalanan Harry Potter. Saya enggak pengen ada cerita yang diperpanjang lagi. (jadi saya kayak teriak dalam hati waktu tahu ada buku HP ke-8 : “Cukup Rowling… Yang kamu lakukan itu jahat..” hahahhaha) πŸ˜‚πŸ˜‚

Ya gitu deh, saya ga beli buku ini. Sampai bulan Oktober 2018 saya dihadiahkan buku ini oleh salah seorang teman baik saya yang ingin membelikan saya buku. Entah mengapa, rasa penasaran saya tertuju pada si Cursed Child yang nangkring 1 bulanan di rak best seller toko buku Gramedia.

Oke.. saatnya masuk ke review…

Saya akan membuat point yang saya suka dan tidak suka dalam buku ini. Maafkan jika kamu potter head yang kurang setuju kalo membaca review saya ini. Namun, saya juga potter head sejak masih kelas 6 SD dan tampaknya harus jujur untuk buku ke-8 yang mengisahkan tokoh kesayangan saya ini.

Kelebihan buku ini bagi saya, buku ini berhasil menyihirku sama seperti 18 tahun yang lalu, saat pertama kalo membaca novel HP and philosopher stone. Yaps… mengapa saya bilang seperti ini? Karena saya nagih baca buku ini, rasanya ga mau nutup buku ini, sampai selesai. Akhirnya buku ini selesai dalam waktu 2 hari. Pencapaian buat saya sekarang, karena di tengah pekerjaan sanggup begadang buat baca ini.. Hahahahha… πŸ˜‚πŸ˜‚

Kedua, buku ini berisikan skenario, jadi ya seperti membaca skenario dan bisa membayangkan adegan-adegannya. Saya dari dulu begitu sih kalo baca HP, pasti ngebayangin ini tempatnya gimana ya, ini alat sihirnya gimana ya…

Ketiga, untuk sebuah scenario dialog nya dikemas sangat baik (bahkan untuk terjemahan bahasa Indonesia -nya). 

Nah, sekarang kekurangan dari buku ini. 

Pertama, bagi penggemar berat HP emang pasti ada kekecewaan dengan buku ini. Ukuran sebuah scenario sih bagus-bagus aja sih, tapi untuk sebuah novel menurut saya juga kurang (emang ga novel sih ya, tapi kalo disandingkan pada novel HP lainnya). Alur plotnya menurut saya kurang jelas. Mungkin emang karena ceritanya ada lompat ke masa lalu sekarang, dimana ceritanya Albus Potter dan Scorpius Malfoy menggunakan time turner untuk menyelamatkan nyawa Cedric Diggory. Sah-sah aja pakai model flashback, tapi agak berbeda karena banyak pengulangan flashback, dan sepertinya memang tidak sepenuhnya JK Rowling yang menulisnya. Greget-nya yang saya rasakan beda.

Kedua, buku ini kesannya memaksakan. Saya belum bisa ngebayangin Voldemort punya anak dengan Bellatrix Lestrange (salah seorang pelahap maut), kemudian lahirlah Delphini.. Hahahaha… πŸ˜“πŸ˜“

Ketiga, kisah time turner itu sendiri, alat pembalik waktu yang mampu mengubah sejarah sihir. Sampai Ron dan Hermione bisa diubah tidak menikah dan tidak memiliki Rose.. Kemudian, Voldemort yang menguasai sejarah sihir.. Anehnya, kalo time turner ini emang udah ada, kenapa Voldy never heard it and use it before?

Keempat, ada part dimana Albus membuat dan meminum polyjuice potion dan mengubah dirinya sebagai Ron untuk mengambil time turner di kantor Hermione. Kemudian, tidak sengaja ketemu Hermione. Aneh, karena Hermione dan Harry tidak terlalu curiga dengan kedatangan Ron di kantornya. 

Kelima, karakter Harry Potter tidak se-wise bisanya. Malah di umur sekitar 40 tahun, saya membayangkan Harry adalah ayah yang bijak dan penuh teladan (dengan semua fase kehidupan sihir yang telah dijalaninya). Namun, ada part yang meyakinkan saya, Harry sangat childish, temperamen tinggi dan emosional.. Malah dalam hati saya membatin, “Harry kamu berubah”πŸ˜“πŸ˜“

Baiklah, sekian review buku Harry Potter and the Cursed Child. Bagi kamu penggemar Harry Potter, buku ini wajib kok kamu baca, agar dapat merasakan yang saya rasakan, atau malah tidak… Hahhahaa πŸ˜‚πŸ˜‚


Nox!




10 komentar:

  1. kalo nggak salah ada live show-nya HP untuk buku yang ini...

    BalasHapus
  2. Lengkap sekali ya pembahasannya, aku malah gak kepikiran kalau ada alat yang bisa mengubah waktu

    BalasHapus
  3. Harry sangat childish, temperamen tinggi dan emosional.. Malah dalam hati saya membatin, “Harry kamu berubah” Hahahaha kok sama ya perasaan kita... ehmmmm ... saya sih gak pernah baca bukunya hanya nonton filmnya saja, tapi suka membayangkan Harry bukanlah sosok yang sempurna sebagaimana kelihatannya, tapi dia juga childish dan nyebelin.. hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehehe... terimakasih sudah mampir mbaa.. aku πŸ™

      Hapus
  4. Mbak postingan saya nggak muncul-muncul. Jadi kepo saya. Haha. Test lagi ah mana tahu yang ini langsung muncul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe sudah muncul mba..😁 terimakasih sudah mampir mbaaa πŸ™

      Hapus
  5. Makasih ya kak, buku dari aku di review ❤

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.