Book Review | "Panggil Aku Kartini Saja" - Pramoedya Ananta Toer

September 07, 2017
Sumber : Foto Pribadi

Judul Buku : Panggil Aku Kartini Saja

Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara 
Tahun Terbit : 2015
Tebal : 308 hlm
ISBN : 978-979-3820-05-7

Dulu waktu saya belajar sejarah, saya hanya sekedar mengetahui Raden Ajeng Kartini adalah seorang gadis Jawa keturunan ningrat yang berjuang untuk kesetaraan gender kaum wanita di Indonesia. Sosok gadis Jawa yang dipingit, dipaksa menikah, melahirkan lalu meninggal. Seorang pahlawan wanita Indonesia yang hari lahirnya selalu diperingati setahun sekali. Hanya sebatas itu.

Sampai akhirnya, saya membaca buku yang ditulis oleh Pramoedya ini. Saya begitu tertarik untuk melahapnya hingga selesai. Perjalanan hidup seorang Kartini untuk memperjuangkan nasib rakyatnya dimulai dari pertanyaan seorang Letsy, yang adalah teman sekolah Kartini:
"Tapi, coba katakan, Ni, kau tak pernah ceritakan padaku, kau mau jadi apa kelak?"
Perjuangan Kartini tidak sebatas pada emansipasi wanita. Kartini berjuang untuk rakyatnya. Dalam buku ini dijelaskan, melalui surat-surat Kartini kepada Estelle Zeehandelaar (sahabat penanya). Beliau menceritakan dan memperkenalkan keadaan sosial pribumi kepada sahabatnya dari negeri Belanda. Terutama situasi pendidikan. 

Penjajahan Belanda yang begitu lama di Jawa semestinya telah menghasilkan nilai dan tingkat pendidikan yang lumayan bagi pribumi. Namun, kenyataan berbicara lain. Pemerintah membatasi sekolah antara kaum bangsawan dan kaum rakyat jelata pada saat itu. Dimana anak-anak pribumi yang berusia 6-7 tahun harus dapat berbahasa Belanda, jika ingin diterima setidaknya di sekolah-sekolah rendah umum buat orang-orang Belanda.

Kartini berpikir untuk harus bisa menguasai bahasa Belanda. Penguasaan bahasa Belanda tersebut, Kartini gunakan sebagai alat untuk menarik perhatian Belanda dan kaum bangsawan pribumi intelektual, guna memberikan arah baru dengan tidak memandang rakyat melalui kacamata feodal, tetapi sebagaimana manusia biasa.

Dengan penanya Kartini berjuang. Semangat menulis Kartini menjadikan prosa, puisi dan surat-suratnya sebagai alat untuk berjuang.
"Sebagai pengarang dapatlah aku secara besar-besaran mewujudkan cita-citaku dan bekerja bagi pengangkatan derajat dan pengadaban rakyatku. Kau tahu sendiri akan kecintaanku pada sastra, bahkan menjadi salah satu angan-anganku untuk sekali waktu jadi sastrawan yang berarti." (Surat kepada Estelle Zeehandelaar, 11 Oktober 1901)
Kartini tidak hanya sosok pengarang, beliau juga seorang pembatik, pelukis dan pemusik. Kartini adalah seniwati pada jamannya.

Tak hanya sisi patriotik Kartini saja yang dituliskan Pram di buku ini. Hubungan Kartini dengan ayah dan keluarganya dan sedikit tentang kondisi psikologis Kartini juga ditelaah sedikit di buku ini.

Pandangan awal saya tentang Kartini jadi berbeda setelah membaca buku ini. Kartini bukan hanya sosok yang dihidupkan sekali setahun. Lebih dari itu. Kartini adalah sosok inspirator yang berjuang untuk rakyat. Ditengah keterbatasannya, memang tidak dapat berjuang di medan perang dengan mengangkat bambu runcing. Namun seutuhnya, beliau telah berjuang dengan segenap jiwa dan raganya. Kobaran api semangat perjuangan itu telah tertuang di dalam tulisan-tulisannya. Kartini telah menyuarakan isi hatinya tentang nasib rakyatnya kepada dunia internasional. 

Beliau adalah sosok yang melawan feodalisme. Kartini adalah Raden Ajeng yang hanya ingin dipanggil Kartini saja.
"Panggil aku Kartini saja-itulah namaku." (Surat kepada Estelle, 25 Mei 1899)
Satu kutipan yang paling saya sukai dalam buku ini :
"Dan lebih keras daripada erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkanlah kebebasanmu! Baru kemudian kalau kau telah bebaskan dirimu sendiri dengan kerja, dapatlah kau menolong yang lain-lain!"





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.